Aku tak tahu, apakah aku pernah
merindukannya.
Namaku Jayanti Novalia. Menurutku,
itu nama yang singkat dan mudah diingat.
Teman-teman selalu memanggilku dengan panggilan akrab, Nova. Aku terlahir dari
keluarga yang boleh dibilang pas-pasan, sebagai anak pertama dari dua bersaudara.
Adikku laki-laki bernama Satria Jaya. Selang perbedaan aku dan adikku 3 tahun. Tak pernah
terlontar sedikitpun keluhan dari mulutku meski hidup serba pas-pasan. Kami
berdua hidup dalam asuhan kakek-nenek dari ibuku.
Jika mau dibilang hidup tak
pernah mengenyam kasih sayang, memang begitulah adanya. Terkadang aku iri,
melihat teman-teman hidup serba berkecukupan. Mau minta ini-itu selalu tersaji
cepat di depan mata. Sungguh jauh berbeda dengan aku. Terkadang, mau makan pun
harus berurai air mata dulu.
Aku juga ingin hidup dalam
kedamaian dan ketenangan, cukup dan tak kurang apa-apa. Permintaan sederhana
yang lama tak jadi nyata. Aku sadar, kakek, nenek, om, dan tanteku yang banting
tulang untuk membiayai hidup dan sekolah kami berdua. Meski begitu, aku tak
pernah putus asa.
Semangat dan gerak langkah yang
selalu aku ayunkan, jadi pemicu om dan tanteku agar aku dapat terus melanjutkan
sekolah. Merekalah yang mendorong kami berdua untuk tetap bersekolah. Meski,
terkadang untuk membayar uang sekolah tersendat-sendat. Tanteku tak pernah
putus asa. Segala cara yang tentunya halal dia lakukan demi untuk kami berdua.
Masa-Masa
Sekolah
Dari dulu aku sudah ingin
bersekolah. Melihat anak-anak di atas umurku bersekolah, rasanya aku ingin ikut
bersama mereka. Merasakan bertemu teman-teman baru. Belajar bersama di dalam
ruang kelas dengan guru yang membimbing secara tulus tak kenal lelah. Oh...
aku membayangkan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Ketika itu, nenekku
berinisiatif untuk “menitipkanku” di sekolah yang tak jauh dari rumah.
Akhirnya, apa yang aku inginkan tercapai juga. Meski statusku “siswa titipan”
yang boleh ikut belajar bersama siswa lain,tapi aku tetap semangat. Tak
disangka, akupun cepat berbaur dan akrab dengan teman-teman baruku.
Aku memang agak lambat mengikuti
pelajaran, apalagi soal hitung-hitungan, aku akui agak lemah. Ketika ujian
sekolah diadakan, aku diikutsertakan. Saat murid-murid lain menerima raport,
akupun diberikan. Ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Artinya, aku bisa
langsung terus melanjutkan di sekolah itu.
Guru-guru yang membimbing dan
mengajar dengan sabar membantuku jika ada kesulitan belajar. Mereka menjadi
orang tua keduaku di sekolah. Banyak kejadian lucu, sedih, atau menyenangkan
yang membuat aku semangat menjalankan semuanya. Semua berjalan apa adanya. Saat
pulang ke rumah, aku biasanya mengulang kembali pelajaran yang diberikan dari sekolah.
Omku selalu bertanya, “Pelajaran apa yang diajarkan bapak atau ibu guru hari
ini?” “Ada pekerjaan rumah (PR) tidak?”
Pertanyaan itu yang sering keluar dari mulut omku.
Omku termasuk orang yang tegas
dan cerewet untuk urusan belajar. Dia selalu menekankan pada kami berdua untuk
selalu rajin membaca. Memang aku akui, kami tak begitu suka membaca. Aku juga
tak tahu alasannya kenapa.
Hari-hari di sekolah selalu
penuh ceria, meski terkadang beberapa dari mereka ada yang menghina. Yah,
mereka melihat sepatu yang aku kenakan sudah robek sana-sini. Ahh, aku
tak peduli dengan segala macam ocehan mereka. Tokh, mereka tidak
membiayaiku, namanya juga anak-anak kecil yang masih suka mengejek dan
menghina. Biarkan sajalah, aku selalu mengalah dan berpikir positif saja.
Akupun tak terbersit untuk membalas dendam.
Untuk menambah uang saku, aku
tak malu-malu berjualan. Hal itu aku lakukan selepas turun main. Tanteku memang
rajin membuat kue-kue basah dengan harga murah. Makanan ringan semisal keripik singkong
pun tak luput dari tangan-tangan cekatan tanteku..
Guru-guruku pun menyukai kue
buatan tanteku. Bahkan ada yang memesan hingga ratusan buah. Aku bersyukur,
meski bagaimanapun juga, Tuhan masih memberikan aku rezeki yang halal dengan
caraku.
Babak Baru
Tak lama berselang, akupun
lulus dari sekolah dasar yang telah memberikanku banyak ilmu. Aku melanjutkan
ke salah satu SMP Negeri yang ada di kotaku, Jambi. Jarak yang aku tempuh
lumayan jauh. Tiap hari aku harus jalan kaki untuk sampai ke oasis pendidikan
itu sejauh 10 Km. Akan tetapi, itu tak membuatku surut mengais ilmu. Hidup
mandiri sudah biasa aku lakukan. Didikan keras dari nenek, kakek, om, dan
tanteku senantiasa aku ingat dan camkan. Itu pelajaran berharga yang selalu aku
dapatkan di rumah. Pelajaran berharga itu takkan aku sia-siakan hingga akhir
hidupku.
Selepas SMP... Hmm... aku
memang tak seberuntung teman-temanku yang lain. Mereka dapat sekolah negeri
yang diidam-idamkan. Sementara, aku justru sekolah di sekolah kejuruan sore.
Mungkin dikarenakan nilai hasil ujian akhir SMP-ku yang tak begitu
menggembirakan. Tapi aku cukup bangga, karena nilai itu hasil perjuangan
beratku selama 3 tahun. Hasil jerih payah belajar tanpa didampingi orang tua
tak membuat aku putus asa. Semangat! Meski kasih sayang dan dampingan orang tua
ketika aku belajar sangat aku harapkan tak kunjung datang.
Aku memang tak pernah mengenyam
kasih sayang dari kedua orang tuaku. Tapi entah kenapa, aku tak pernah
menyimpan dendam kepada mereka. Saat usiaku menginjak 2 tahun, ibuku berpisah
dari ayahku. Aku tak tahu sosok ayah seperti apa. Ketika berpisah, ibu
menitipkan aku kepada keluarganya. Ibu pun pergi meninggalkan aku. Sejak saat
itu, akupun tak tahu keberadaan ibu dan ayahku. Banyak orang bilang, pernikahan
atau perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, tapi mengapa perceraian terjadi
pada kedua orang tuaku? Sedih memang dirasa jika mengingat semua.
Perjalanan keseharian terkadang
aku lalui dengan langkah berat. Langkah gontai itu seakan memupuskan semua
harapanku untuk segera mengakhiri sekolah. Tapi, om dan tanteku terus memompa
semangat. Mereka tetap men-support setiap aktivitas yang aku lakukan.
Juga didorong keinginan kuat dari dalam diriku untuk segera cepat lulus
sekolah. Aku ingin membantu adik lelakiku semata wayang. Aku juga tak ingin
merepotkan lagi nenek, kakek, om, dan tanteku. Aku ingin meringankan beban
penderitaan keluarga ibuku. Ingin rasanya cepat menyelesaikan sekolah dan cepat
pula bekerja.
Hari-hari yang kurasa berat
terlalui begitu saja. Tak terasa, akupun sudah mulai masuk di babak akhir
sekolah menengah atasku. Ujian yang mendebarkan selalu berkutat dalam
benakku. Antara harapan dan kenyataan,
meski itu belum terjadi. Aku berharap, semoga lulus ujian sekolah yang hampir
membuatku penat lemah.
Doaku tak sia-sia, Tuhan
mendengarnya. Aku lulus! Lepas rasanya beban derita selama ini. Tak sia-sia
pengorbanan tante dan omku. Ucap syukur tak henti kulafalkan. Tapi..., aku
tetap tak bahagia. Tak sesuka anak-anak yang lain. Orang tua yang berada di
samping mereka, bersemburat simpul senyum sumringah yang tak pernah aku lihat dan
rasakan. Miris hatiku mencengang sendiri terpaku di dinding sekolah yang tak
bisa bersuara.
Semua aku lakukan sendiri.
Benar-benar tereja dalam ketidaksempurnaan. Tapi aku tak pernah susut
menghadapi semuanya. Dalam ketakberdayaan justru kekuatanku teruji sempurna.
Aku bisa melalui semua perjalanan hidupku dengan kekuatan penuh. Dorongan tante
dan omku menjadikan aku sosok gadis pantang menyerah.
Kepergian Ibu
Tercinta
Belumlah usai aku menamatkan
sekolah menengah atas ketika itu, ibu mendadak sakit. Tak lama memang aku
melihat wajah itu. Saat berpisah dari ayahku, ibu juga pergi, tapi kemudian memilih
tinggal bersama nenekku, yaitu ibunya ibuku. Meski tinggal satu atap, tapi aku
jarang bersua. Terkadang ibu pergi entah ke mana tanpa sepengetahuanku, apalagi
keluarga ibuku. Tiba-tiba mendadak pulang, dan itu membuat seluruh isi rumah
kaget.
Ketika nenekku bertanya, “Ke
mana saja kamu selama ini Desi?”, dengan datar ibu menjawab, “Kerja”. Aku tahu,
ibu bekerja untuk diri dan dua anaknya. Hal itu terus berulang hingga tak
terhitung, berapa kali ibu pergi meninggalkan rumah dengan alasan bekerja. Aku
juga jarang bertegur sapa ketika ibu pulang ke rumah. Dia ada, tetapi
seolah-olah tak ada di hadapanku.
Waktu terus berlalu. Ibu memang
sudah jarang di rumah. Pergi entah ke mana. Tak ada kabar berita hingga
mendekati kelulusan sekolahku. Tak ada petir tak ada hujan, tiba-tiba aku
terima kabar, ibuku sakit. Akan tetapi aku tak tahu, ketika beliau sakit entah
berada di mana. Bingung melanda pikiranku saat itu.
Ternyata, salah seorang petugas
rumah sakit di daerahku datang ke rumah nenekku memberitahukan, bahwa ibuku
terbaring di rumah sakit sudah tiga hari. Tanpa banyak bicara, keluarga ibuku
langsung pergi menjenguk. Apa sebenarnya yang terjadi dengan ibuku? Aghhh,
aku tak dapat membayangkan. Seperti pepatah bilang, “Badannya kurus kering,
tinggal kulit pembalut tulang”.
Iba mencekat kuat di raut
wajahku, melihat kondisi beliau yang lemah, kurus, dan tak berdaya. Kalau bisa
aku gantikan posisinya saat itu denganku, aku mau. Bulir-bulir bening dari
kedua mataku menetes tanpa terasa.
Tiga hari di rumah sakit, ibu
dibolehkan pulang. Akan tetapi, kondisinya bukan tambah membaik, justru semakin
payah, lemah, dan tak berdaya. Untuk bersuara pun susah, apalagi memasukan
makanan ke dalam mulut. Tapi, mengapa tanganku tak hendak menyentuh dirinya?
Aku tak mau disebut anak durhaka.
Ibu hanya memberikan isyarat
dengan membunyikan dentingan piring atau mengetok-ngetok dinding. Itu pertanda
jika beliau sedang haus, lapar, atau ingin minta sesuatu. Aku merasakan iba
yang tak berkesudahan. Tak tahan melihat
penderitaan beliau.
Sakit yang diderita ibuku tak
kunjung sembuh. Tetapi, nenek dan kakekku dengan tulus ikhlas merawat beliau.
Apakah itu yang disebut kasih sayang orang tua kepada anaknya? Tak minta
imbalan apa-apa saat anaknya ada dalam kesulitan. Justru kedua orang tuanyalah
yang bersusah payah. Terenyuh aku melihat pengorbanan nenek dan kakekku.
Penuh kasih sayang mereka
memandikan, menggantikan baju, juga menyuapi ibuku.
Mungkin ibuku sudah tak kuat
menanggung derita. Mungkin juga ibuku ingin ketika “tak ada lagi” di dunia ini
dilihat di hadapan kedua orang tuanya. Saat kakek dan nenekku ingin
memandikannya, kira-kira pukul 9.30 pagi, tepat di bulan April 2007 tanggal 29, ibu menghembuskan napas
terakhirnya. Hembusan akhir napas itu ada di pangkuan kakek dan nenekku.
Histeris nenekku berteriak.
Kakekku berada dalam kepasrahan. Aku merenungi nasib, adikku berurai air mata.
Sehari sebelumnya, saudara-saudara dari kakekku memang datang menjenguk ibuku.
Mungkin itu sebagai pertanda pertemuan terakhir saudara-saudara kakekku dengan
ibuku. Tak banyak basa-basi, hari itu juga jenazah ibuku diurus dan kira-kira
pukul tiga sore dimakamkan.
Kedatangan
Ayah
Sembilan bulan setelah
pemakaman ibu, ayahku datang. Itu, tepat di Januari 2009. Tapi tak tahu,
mengapa aku dan adikku tak merasakan getaran kalau dia adalah ayahku. Tante,
nenek, dan kakekku pun bilang bahwa dia adalah ayahku. Tapi tetap, diri ini tak
bisa terima kehadirannya.
Bayangkan saja, 18 tahun aku
tak melihat sosok dan raut wajahnya, tiba-tiba dia datang di hadapan kami
berdua. Sekian lama ibuku menderita, ayahku tak ada kabar berita. Setelah jasad
ibuku berbaur jadi satu berkalang tanah, dia datang hanya ingin meminta maaf
dengan semua kekhilafannya. Juga ingin tahu di mana letak kubur mantan
istrinya. Aku tak tahu, apa yang terjadi ketika “ayahku” datang, yang menemui
justru nenek, tante, dan kakekku. Entah pembicaraan apa yang terjadi di antara
mereka.
Aku dan adikku tak menghiraukan
lagi kedatangan ayahku itu. Tak tahu, apakah ada dendam di hatiku dan adikku.
Semua hadir di saat yang tak tepat. Aku diam seribu bahasa tanpa kata. Bahagia
akan kedatangannya?? Tak tahu!
Hidup memang begitu singkat. Kadang
kita merasa tidak saling membutuhkan, tidak saling mencintai, hingga maut
akhirnya memisahkan kita. Akan lebih berarti wujud cinta yang kita perlihatkan
pada orang-orang tercinta ketika mereka masih hidup, ketimbang air mata yang
tumpah di pusara dan tidak lagi bermakna. [Jayanti Novalia-diceritakan
kembali oleh Jun]
Posted by: |