Sutradara/Produser : Affandi Abdul Rachman
Penulis
Skenario : Syamsul Hadi
Pemain : Raihaanun Soeriaatmadja,
Ramon
Y. Tungka, Richa Novisha,
Gary Iskak, Sophie Navita,
Ananda Omesh, Lukman Sardi,
Jajang C. Noor
Produksi : One Star Production
Durasi :
106 menit
Music
Scoring : Aghi Narottama & Bembi
Gusti
Sountrack :
White Shoes & the Couples Company
Film ber-genre
komedi romantis terhitung baru merebak belakangan di
Film teranyar keluaran One Star Production ini bercerita
tentang seorang pemuda yang sakit hati lantaran ditinggal sang kekasih. Diawali
dengan hubungan kasih nan indah yang dilalui sepasang anak muda kota Jakarta,
Agus (Raymon Y. Tungka) dan Nayla (Raihaanun Soeriaatmadja). Tak berapa lama
mereka harus berpisah lantaran Nayla harus meneruskan kuliah masternya di
Australia. Di masa-masa menuntut ilmu di negeri Kanguru tersebut, Nayla yang
labil dan terbiasa untuk bergantung pada sang kekasih ini, tiba-tiba tidak
dapat menahan kesendiriannya di negeri orang. Ia tergoda oleh seorang mahasiswa
yang sama-sama berasal dari Indonesia, Kevin (Gary Iskak). Hubungan mereka
berkembang lantaran orang tua Nayla yang akrab dengan orang tua Kevin, meminta
Kevin untuk menemani Nayla selama studi di Australia. Karena terbiasa bersama,
ditambah kondisi Nayla yang tidak sanggup berlama-lama jauh dari kekasih, dia
pun luluh di tangan Kevin dan mereka sepakat menjalani hubungan pacaran.
Agus yang tidak mengetahui perkembangan baru itu,
seketika terkejut saat hendak memberikan kejutan indah untuk Nayla sepulang
kekasihnya itu dari Australia. Nayla memutuskannya sepihak karena ia telah
punya pacar baru yang setia menemani sejak beberapa tahun sebelumnya di negeri
orang. Agus pun frustrasi berat. Tapi ia belum ingin menyerah dengan keadaan.
Ia masih belum memercayai kondisi yang dialaminya itu. Ia tidak rela Nayla
direbut orang. Ia ingin Nayla kembali kepadanya.
Ketika sedang nongkrong di warnet sahabatnya, Wawan
(Ananda Omesh), Agus menemukan sebuah situs dari iklan yang menggodanya.
Heart-Break.com. Ia klik iklan situs tersebut dan terpaparlah hal yang
kebetulan berhubungan dengan kondisi percintaannya saat itu. Dalam situs tersebut
muncul video seorang perempuan yang namanya tertera sebagai Mbak Elza (Sophie
Navita), sang pendiri, yang memberikan keterangan bahwa mereka adalah sebuah
lembaga intelijen untuk urusan hati. Tugas mereka memperbaiki hati yang retak
dan rusak lantaran kehadiran orang ketiga, keempat, kelima, dan sebab-sebab
lainnya. Mereka juga berani memberikan jaminan kepada klien mereka yang sedang
patah hati, bahwa 99% Heart-Break.com dapat mengembalikan kekasih yang hilang. Menyaksikan
keterangan yang provokatif tersebut, Wawan mendorong Agus untuk segera
mengontak Heart-Break.com. Setelah dengan kuat didorong dan disemangati
sahabatnya, dan dengan memerhitungkan jumlah tabungannya untuk membayar biaya
yang diperlukan untuk menjadi klien biro intelijen itu, Agus kemudian bersedia
datang ke kantor Heart-Break.com dan mengonsultasikan permasalahannya.
Mbak Elza menyambut Agus dan Wawan dengan tangan
terbuka. Ia segera menyusun program untuk menangani kasus tersebut. Dari sini
dimulailah hari-hari investigasi Heart-Break.com. Program ini melibatkan beberapa
orang tim Heart-Break.com dan para outsourcer
yang dibayar perusahaan jasa ini. Formatnya beragam, mulai dari pelatihan fisik
untuk kliennya sendiri, yaitu Agus, yang melakukan program workout atau pelatihan kebugaran, pembentukan kepribadian agar
tampil penuh percaya diri sekaligus lebih trendy,
dan berbagai adegan rekayasa yang menunjang investigasi mereka.
Dengan profesional penuh Mbak Elza memimpin timnya
menjalani seluruh program yang telah mereka buat khusus untuk Agus. Perempuan
pendiri Heart-Break.com tersebut juga bekerja dengan hati, bukan cuma
otak. Dengan penuh minat ia tangani
kasus per kasus dari tiap kliennya.
Meski awalnya berat, Agus tetap berusaha dapat
menjalankan serangkaian program pelatihan tersebut hingga waktunya mereka
beraksi. Kendati diawali ketegangan, satu persatu aksi mereka mendapatkan
reaksi yang mengarah ke tujuan. Nayla dan Kevin mulai terkena pancingan
berbagai adegan itu. Hingga Nayla merasa perlu curhat dengan Agus setelah
beberapa kali mereka sempat bertemu secara ’tidak sengaja’ dalam program
rekayasa Heart-Break.com. Segala curhatnya itu adalah muara kegelisahannya
lantaran sederet konflik dengan Kevin yang terjadi belakangan. Sampai di sini,
penonton film ini sangat mungkin cenderung menerka kelangsungan hubungan Nayla
– Agus. Bahwa mereka tampak bisa bersatu kembali. Betapa mudah dan ringannya
kisah cinta macam itu, seperti layaknya sebuah komedi romantis yang kerap orang
saksikan. Namun, apa yang kemudian terjadi?
Ternyata kisah film ini tidak dapat berhenti pada
kisah dengan alur lurus seperti itu. Ada twist
yang membuat penonton keliru menebak. Dan di sinilah dapat dikatakan puncak
dari segala emosi, termasuk rasa haru, bahkan sedih. Di tengah-tengah adegan kocak
yang berselang-seling juga bertumpang-tindih rapi dengan adegan romantis, penonton
dapat pula dibuat mengeluarkan air mata pada adegan-adegan puncak emosi ini. Ada
saat penonton tertawa geli atau sekadar senyum-senyum simpul sendiri, ada kenyamanan
dan perasaan ikut bahagia serta ingatan akan pengalaman-pengalaman bermesraan ketika
melihat adegan-adegan romantis, ada rasa dongkol dengan beberapa karakter dan
adegan, dan ada pula rasa lain yang kemudian tampil: ternyata film ini pun
mampu membikin penonton yang peka tidak bisa menahan tumpahnya kantung air mata
mereka! Fandi, demikian sapaan akrab sang sutradara, ternyata berhasil
memadukan dengan piawai emosi-emosi ini. Meski film garapannya sebelum ini
bertema lebih berat dan tidak berfokus pada pasar, dalam kenyataannya Fandi ternyata
juga mampu membuat film ringan, menghibur, sekaligus kreatif dalam balutan
cerita berinti komedi romantis.
Pada akhir film disisakan sebuah adegan yang seolah
mengindikasikan film ini terbuka untuk diinterpretasikan atau bisa juga siap
dilanjutkan. Penonton dibuat penasaran soal hubungan Mbak Elza dengan seorang
lelaki yang kerap muncul seolah numpang lewat pada beberapa adegan sebelumnya.
Dari segi akting, tiap pemain tampak mengenal
dengan cukup baik karakter yang mereka perankan. Hanya pada awal-awal film, dialog
dan interaksi Agus dan Wawan masih bisa lebih dimaksimalkan untuk
memperlihatkan keakraban yang sudah terjalin selama bertahun-tahun pertemanan
mereka. Posisi Nayla sebagai seorang anak dari keluarga bahagia pun masih bisa
lebih diperinci, bukan sekadar menghadirkan orangtuanya pada adegan-adegan
pengantar (bridging) untuk sekadar
memperlihatkan bahwa ia berasal dari keluarga bijaksana nan bahagia. Posisi ini
sering kita jumpai dalam film-film remaja Indonesia, tokoh utama adalah seorang
anak (tampak tunggal, tanpa kakak/abang atau adik) yang memiliki orang tua
(entah sepasang atau hanya 1 orang) untuk sekadar memperlihatkan ia punya
keluarga. Seolah tidak ingin dianggap ’sekadar’-nya, Fandi memasang
aktor-aktris senior dalam karakter ’bridging’
ini. Jajang C. Noer sebagai ibu Nayla dan Pong Hardjatmo sebagai ayahnya. Kedua
bintang senior tersebut lebih bisa dieksplorasi lagi sebetulnya. Mubazir juga
tidak ’memanfaatkan’ mereka untuk peran-peran yang lebih bisa menggali
kepiawaian mereka berakting. Agaknya sutradara ingin memberikan kesempatan pada
bintang-bintang muda untuk bisa menampilkan kilau mereka. Di antaranya dengan terus
mengasah mereka melalui sesi workshop
akting dan pengenalan karakter yang berlangsung intensif sebulan penuh. Ia pun membangun
hubungan yang kreatif-membebaskan dengan para pemain. Sutradara lulusan
Columbia College of Hollywood Los
Angeles yang lulus dengan predikat Magna Cum Laude ini memberikan kebebasan
kepada para pemain untuk mengeksplorasi lebih jauh peran mereka, termasuk untuk
observasi ke berbagai pihak dan lokasi.
Akan halnya aktor Lukman Sardi, kendati di film ini
ia tampil sambil lalu tetapi kerap dalam berbagai adegan, tampak bahwa ada
sesuatu yang ingin disampaikan. Rasa penasaran penonton digelitik. Meski belum
seluruhnya terungkap, di akhir kisah, penonton memperoleh jawaban. Namun tetap
ada yang tersisa untuk dijawab.
Keseluruhan film ini terlihat berinti pesan
mengenai jasa Heart-Break.com yang pakar dalam mengelola masalah luka hati. Sejumlah logo
Heart-Break.com diperlihatkan tercantum di beberapa medium, mulai dari papan
nama, lobby background, kartu nama, paket
bingkisan, hingga adegan rekaman video kliennya. Dan visualisasi logo dan brand ini tampak sejak di awal cerita,
ketika Agus menemukan situsnya di warnet sang sahabat, hingga di detik-detik
menjelang akhir, manakala Nayla memperlihatkan kartu nama lembaga tersebut. Di
adegan yang disebut terakhir ini pun tak lepas dari kekocakan, bahwa sebutan
’Mbak’ pada Mbak Elza, pun ikut tercetak di kartu nama. Seolah sengaja dibentuk
seperti brand, mendampingi
Heart-Break.com.
Heart-Break.com agaknya memang sebuah ’barang baru’
yang unik. Lantaran itu perlu disosialisasikan agar semua pihak bisa memperoleh
manfaat. Sebelum proses produksi film ini dimulai, serangkaian penelitian
memang telah dilakukan, termasuk dengan mengumpulkan berbagai curhat dari
beberapa pasang anak muda yang mengakses situs Heart-Break.com. Ternyata, film
ini tidak main-main.
Situs ini memang ada dan telah dipersiapkan, saat proses
pra-produksi mulai berlangsung. Melalui situs tersebut dengan alamat email dan
nomor telepon hotline service
Heart-Break.com yang tercantum di situ, khalayak dapat mengirimkan curhat dan
mengonsultasikan kisah patah hati mereka. Untuk yang lagi jomblo, patah hati, atau ditinggal
pergi pasangan, wajib nonton film ini.
Posted by: |