Di era tahun 1970-an, Dewi Motik Pramono dikenal karena profesinya sebagai model top tanah air. Lewat profesinya tersebut ia pernah terpilih menjadi ratu luwes dan salah satu pemenang Ratu Jakarta Fair juga top model of the year. Di era berikutnya, Dewi Motik dikenal sebagai seorang bussines women yang sukses. Bisnisnya meliputi garmen, distributor semen, agen mobil, taksi, dan lain-lain. Tetapi sekarang, peraih gelar doktor dari UNJ (dahulu IKIP Jakarta), jurusan ilmu pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup ini sedang menikmati kesibukannya berkecimpung sebagai pekerja sosial (social work).
Ketika d’sari bertandang ke kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, d’sari melihat sosok yang ramah, supel dan cerdas, serta mandiri. Di usianya yang matang, dia masih terlihat segar, anggun, dan selalu ceria. Dalam balutan busana blouse dengan jilbab menawan membuat Dewi Motik terlihat elegan. Obrolan pun dimulai. Beberapa pertanyaan yang d’sari ajukan satu per satu dijawab lugas, ringan, dan cerdas ala Dewi Motik.
Berikut petikan wawancara d’sari dengan dirinya.
Apa aktivitas Anda sekarang?
Alhamdulilah, di umur 60 tahun ini saya mendapat dua posisi yang sangat kuat, yaitu sebagai ketua umum kongres wanita Indonesia, membawahi 83 organisasi nasional dari Muhammadiyah, NU, Katolik, penulis, sarjana hukum, darma wanita luar negeri, dan lain-lain. Dan kita juga baru menerima ikatan ahli boga Indonesia. Di bulan Januari lalu, saya juga mendapat jabatan sebagai salah satu ketua kadin bidang lingkungan hidup dan jasa kesehatan, mewakili menteri lingkungan hidup, M. Hidayat. Jadi, saya bersyukur, karena banyak kegiatan, tidak sempat menganggur. Bulan ini saya juga baru kembali dari New York menghadiri international conference tentang kegiatan profesional perempuan.
Anda dikenal sebagai business woman, bisnis Anda bergerak di bidang apa saja?
Terus terang, saya sebagai pendiri ikatan wanita pengusaha Indonesia 36 tahun lalu. Memang, ketika itu usaha saya di bidang garmen, distributor semen, agen mobil, taksi, dan lain-lain. Tapi, sekarang ini saya justru kembali ke social work. Saya tidak membicarakan bisnis lagi saat ini, karena bisnis saya sekarang bukan bisnis, tapi sesuatu usaha di bidang pendidikan. Seperti universitas, Yayasan Indonusa Esa Unggul, Yayasan Motik, Yayasan Asuhan Nadipa, PKK Demono. Jadi, saya lebih bergerak di bidang sosial. Karena saya merasakan kenikmatan tersendiri di bidang ini. Saya tidak lagi dikejar kata “harus”. Karena, dalam dunia bisnis you have to be on time. Bukan berarti bidang lain tidak on time dan tidak boleh mengatakan permainan waktu. Waktu itu harus tepat. Tapi di bidang sosial, bebannya lebih ringan. Karena sosial itu from your heart. Kalau di bisnis itu mesti tepat, karena berhubungan dengan sanksi finansial.
Perjalanan karir Anda sejak awal hingga sekarang?
Alhamdulillah, saya berasal dari keluarga yang memberikan kasih sayang “super”. Pendidikan, agama, saya dapatkan lengkap semuanya. Ketika kelas 3 SMP, saya sudah jago bermain sulap. Dari situ saya sudah mendapatkan uang sendiri. Selain dari bermain sulap, saya juga menghasilkan uang dari berjualan kue, dan menjual sepatu. Saya sangat bersyukur diberikan kepercayaan oleh orang tua saya untuk mengambil keputusan sendiri sejak kecil.
Cara Anda membagi waktu antara kesibukan dan keluarga?
Saya tidak mengerti, kenapa orang bilang saya sibuk dan tidak punya waktu untuk keluarga. Bagaimana tidak, salat subuh kita bersama dan komunikasi pun lancar. Makan pagi bersama, jika ada sesuatu tinggal telepon kalau perlu. Jadi, where there is a will there is a way. Mengapa di buat susah. Justru saya yang ditinggalkan keluarga, anak-anak sekolah, suami kerja. Jadi, lebih baik saya kerja buat orang, daripada di rumah. So use your brain and idea from God. Jadi, kenapa dibuat sulit. Saya tidak merasa mengatur waktu saya sejak dulu.
Anda pernah jadi top model, tahun berapa dan bagaimana awalnya?
Pada 1978, saya terpilih menjadi ratu luwes dan salah satu pemenang ratu Jakarta Fair dan top model of the year. Awalnya, gara-gara saya ingin menyenangkan ibu saya. Dulu ibu saya pernah jadi anggota woman international club dan ingin mencari dana. Kebetulan ibu saya tidak mau bayar model, karena mahal. Saat itu, anak-anaknya yang keren-keren diajak beraksi. Ternyata banyak yang suka saya. Akhirnya, saya mendapat kontrak pertama dan diteruskan. Waktu itu saya senang sekali, karena suka di foto, itu hobi yang paling menyenangkan.
Hasil dari model diinvestasikan ke mana?
Bersyukur sekali, saat jadi top model itu saya berlima dan kami dikontrak sama batik keris, dibayar 1 juta sebulan. Kita show pagi, siang, dan malam. Bahkan, hingga saya mau menikah masih di kontrak untuk show di Sarinah. Karena ketika itu bayarannya cukup tinggi, jadi sayang jika di tinggal.
Sejauh ini pencapaian apa yang sudah didapat?
Saya rasa sudah kelewatan apa yang ingin saya dapat. Saya tidak ingin punya gelar doktor, S1 saja cukup sebenarnya. Tapi, teman-teman memaksa saya ambil S2 di UI. Dan sekarang malah dapat gelar doktor. S1 saya ada dua, ekonomi di IKIP dan seni rupa di Florida International University itu punya PBB. S2 di UI, dan S3 di IKIP/UNJ, jurusan pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup. Saya juga bersyukur, karena S3 di bidang lingkungan hidup masih sangat jarang. Cita-cita saya besar sekali, tapi sudah banyak yang saya dapatkan. Masih banyak juga keinginan saya yang lain, seperti ingin punya gedung teater seperti Sydney Opera House, ingin punya sekolah gratis untuk yatim piatu.
Apa kiat sukses Anda?
Berdoa dan berkarya. Kalau dalam Kristen ora et labora. Dalam Islam, hablum minnaallah wa hablum minnanas. Karena, tidak ada satupun yang bisa menggerakkan dan bantu kita, kecuali Tuhan. Jadi, kalau sesuatu yang sudah kita program jika Tuhan tidak mengizinkan, maka tidak akan terjadi. Jadi, saya tidak pernah harus memaksakan sesuatu. Untuk itu, saya selalu percaya sama Tuhan.
Untuk bisnis, apakah yang ingin lebih dikembangkan?
Untuk saat ini lebih ke sekolah-sekolah saja. Alhamdulillah, yang kita kelola bagus.
Suka dukanya?
Suka dan dukanya ada banyak. Salah satunya ketika Moza belum mendapat anak, hingga baru pada usia pernikahannya yang ke 5,5 tahun akhirnya dia mendapatkannya. Saya sebagai orang tua tentu sedih. Makanya, sejak itu saya tidak pernah menanyakan kepada orang yang baru menikah kapan punya anak. Padahal itu sesuatu yang normal. Sebelum kamu selesai sekolah pasti ditanya, kapan selesainya. Setelah selesai sekolah, kapan kerjanya. Setelah kerja kapan menikahnya. Jadi, itu pertanyaan normal. Tapi, untuk orang tertentu memang sensitif.
Sejauh mana kaum wanita secara universal mengetahui dan menyikapi tentang emansipasi, feminisme, dan kesetaraan gender ?
Hasil pertemuan saya di PBB tanggal 1--12 Maret mengenai hal ini, salah satunya adalah MDG’s. Sebenarnya hal ini sudah digali oleh kita kaum wanita di Indonesia, pada 22 oktober 1928. Di situ kesetaraan gender telah mencuat. Wanita hand in hand dengan kaum pria di Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Sebagai ketua umum kowani saat ini saya mengatakan, bahwa wanita dan pria setara, terutama ketika harus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Hakikat apa yang ingin diraih kaum wanita dalam emansipasi ?
Yang ingin diraih adalah penghormatan, keberadaan dan posisi. Jadi, sebenarnya kita tidak mau merebutnya dari laki-laki. Kita hanya ingin diberi kesempatan. Karena, kalau kesempatan itu tidak diberikan dan didukung, maka itu akan membuat timbulnya rasa ketidakpercayaan diri bagi seorang wanita.
Bagaimana implementasi emansipasi, feminisme, dan kesetaraan gender
di dunia barat dan Indonesia ?
Menurut pendapat saya di Indonesia itu terdapat 90% muslim. Tetapi, jangan lantas mencampur- baurkan antara budaya Islam dan budaya Arab. Karena, budaya Arab itu memang tidak menghormati wanita, maka itu diturunkan agama di daerah semenanjung Arab. Karena dalam Islam disebutkan, ibu atau wanita berada di atas laki-laki, wanita tiang negara, wanita pondasi bangsa, wanita pakaian pria. Sama juga sebaliknya, pria pakaian wanita, itu artinya wanita dan pria setara. Hanya memang ada perbedaan, wanita melahirkan dan menyusui sedang pria tidak. Karena wanita dari tulang rusuk pria maka itu agak lemah. Lemah itu penuh kelembutan. Oleh karena itu, jangan dikasari mesti disayangi, saling membimbing. Karena wanita itu bukan di belakang atau di depan, tapi di samping. Sebab, tulang rusuk itu ada di samping, itu satu taraf, satu garis. Sejago apapun pria, pasti akan selalu menghormati wanita.
Apakah emansipasi, feminisme, dan kesetaraan gender punya kerentanan yang dapat di salah gunakan oleh wanita itu sendiri?
Ya, maaf ya saya adalah manusia. Saya bilang maaf karena 30% dikibulinnya sedikit. Sementara, wanita itu tidak mengerti kalau dibohongi oleh pihak laki-laki. Balik-baliknya ke MA dan tidak diakui 30%, politic is politic. Satu tambah satu bisa 11, kalau kita tidak bisa main politik, jangan masuk politik. Saya tidak pernah masuk politik. Alhamdulillah saya dihormati. Bukan saya takabur, tapi saya bersyukur apa yang diberikan Tuhan. Terpenting saya berkarya, tidak peduli ada yang suka atau tidak dengan karya saya. Kalau mau masuk politik atau yang lainnya, jangan minta bantuan sama yang lain, somebody help you, beautiful, nobody help you, you go on.
Apakah esensi emansipasi, feminisme, dan kesetaraan gender diperlukan?
Menurut saya, Feminism itu tidak perlu. Indonesia punya budaya dan di dalam agama pun merupakan penghormatan. Wanita punya kehalusan budi, keindahan, kemuliaan, dan keluwesan, itulah wanita. Lantas, mengapa kita mesti menghilangkan kodrat yang dikasih Tuhan, misalnya ada yang bergaya seperti laki-laki. [Jun-Anita] Dimuat di Majalah d'sari vol 15 April-Mei 2010 dalam Rubrik d'sari icon.
Posted by: |