Perut ramping jadi idaman semua orang. Karena perut buncit, selain tidak sedap di pandang mata, juga menjadi indikator kesehatan yang menurun. Beberapa ilmuwan telah membuktikan, bahwa perut buncit berarti juga kelebihan lemak (over fat) di sekitar perut, sungguh tidak baik. Studi menunjukkan, bahwa wanita yang punya lingkar pinggang 35 inci atau lebih, risiko terkena penyakit jantung dan diabetes lebih besar dibanding wanita yang punya ukuran pinggang lebih kecil. Bagi pria, lingkar pinggang 40 inci atau lebih juga dapat menjadi indikator untuk risiko kesehatan yang sama.
Keterkaitan antara ukuran pinggang dan risiko kematian karena salah satu dari dua penyakit itu bukan sekadar kebetulan. Lemak perutlah yang sesungguhnya menyebabkan penyakit tersebut. Ada dua jenis “lemak perut”: subcutaneous (subkutan) dan visceral (bagian dalam). Lemak subkutan diuraikan sebagai lemak yang dapat Anda lihat. Subcutaneous berarti “di bawah” (sub) “kulit” (cutaneous). Selain di bagian perut, lemak subkutan juga terdapat di beberapa tempat terutama di paha maupun ketiak. Bagi kebanyakan orang terdapat di mana-mana. Jumlah lemak subkutan yang sedang-sedang saja penting bagi kehidupan. Contohnya untuk menjaga tubuh tetap hangat saat cuaca dingin. Tetapi, jika jumlahnya berlebihan akan berbahaya.
Jenis lemak kedua adalah lemak visceral (lemak bagian dalam atau tidak terlihat). Lemak visceral jauh lebih berbahaya dan sulit dihilangkan. Lemak visceral dapat disebut sebagai lemak perut yang “tersembunyi”. Lemak itu juga dapat disebut sebagai lemak “mematikan”. Karena, kelebihan lemak visceral dapat meningkatkan risiko terkena semua jenis penyakit. Anda dapat mengurangi kalori dan berolahraga dengan tekun, tetapi lemak visceral masih terlalu banyak untuk dapat dihilangkan.
Salah satu cara untuk meminimalkan lemak visceral dan subkutan dengan menyinambungkan penerapan pola diet (mengonsumsi, menghindari makanan, atau lemak).
Berikut beberapa tips menghindari perut buncit.
Hindari asupan garam berlebih. Air mudah terikat ke sodium (natrium), sehingga jika Anda mengonsumsi garam berlebih, maka tubuh Anda akan menahan lebih banyak fluida (campuran cairan dan gas) yang membuat perut Anda tampak buncit.
Hindari asupan karbohidrat berlebih. Sebagai sumber energi cadangan, otot Anda menyimpan sejenis karbohidrat yang disebut glikogen. Setiap gram glikogen disimpan bersama dengan tiga gram air. Hanya, jika Anda berlari esok hari, maka tubuh Anda akan menggunakan cadangan karbohidrat itu.
Berhenti dari minuman beralkohol. Menurut Dr. Jacob Seidell, Ph.D., dari National Institute of Public Health in Bilthoven, Netherlands, alkohol cenderung meningkatkan kadar hormon kortisol yang berperan mengirimkan lemak ke perut.
Jika perut terasa kembung, biasakan minum air hangat sebelum makan. Demikian salah satu kiat yang disarankan Gillian McKeith, seorang pakar nutrisi dan penulis buku You Are What You Eat. “Selain itu hindari air es. Air es akan menambah gas dalam lambung Anda sehingga perut pun bertambah buncit”, tambahnya seperti dikutip Foxnews.
Berhenti merokok. “Merokok membuat tubuh langsing,” demikian klaim para perokok. Tetapi kebenaran membuktikan, bahwa perokok cenderung memiliki lebih banyak lemak di perut dibandingkan yang bukan perokok, kata Dr. Seidell, (hormon stres dan kortisol, yang menjadi pemicunya). “Ketika seseorang berhenti merokok, maka jumlah lemak perutnya cenderung menurun”, katanya.
Makan atau minum jahe. Senyawa ginerol di dalam jahe akan mengurangi perut kembung.
Sawi putih juga mengurangi perut kembung. Menurut McKeith, sayuran ini mengandung probiotik yang akan menyumbangkan bakteri baik ke dalam perut.
Tambahkan seledri dalam daftar diet Anda. Seledri, terang McKeith, mengandung natrium dan kalium yang sangat diperlukan untuk menyeimbangkan kadar air.
Cukupkan asupan kalsium. Kekuarangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis dalam hal ini tulang iga, sehingga mengurangi rongga perut. Akibatnya, lambung kekurangan ruang. Akhirnya, perut tampak menonjol ke luar, kata Willibald Nagler, MD, seorang psikiater di New York Hospital-Cornell Medical Center di New York City. Jika Anda berusia 50 tahun atau lebih, pastikan mendapat asupan 1.200 mg kalsium setiap hari dari makanan atau suplemen. Jika Anda berusia di bawah 50 tahun, 1.000 mg kalsium sudah cukup.
Mengurangi makanan mentah. Setengah cangkir wortel rebus memberikan jumlah nutrisi yang sama dengan secangkir wortel mentah. Tetapi, hanya menempati ruang yang lebih kecil di saluran gastrointestinal (GI atau lambung dan usus). Makanlah hanya sayuran yang sudah dimasak. Seporsi kecil buah-buahan kering tanpa pemanis dan buah kaleng dalam jus alami. Makanan itu dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa membuat saluran GI membesar.
Salah satu cara mengecilkan perut dengan mengonsumsi lemak, tetapi lemak sehat yang disebut MUFA (monounsaturated fatty acids atau asam lemak tak jenuh tunggal). Tujuannya mengurangi lemak visceral. MUFA dapat ditemukan dalam berbagai jenis minyak, seperti minyak zaitun, minyak kacang, alpukat, dan cokelat hitam.
Makanan yang dibumbui dengan cabai, lada hitam, buah pala, cengkeh, bawang putih, mustard, saos tomat, atau cuka semuanya dapat merangsang pelepasan asam lambung, yang dapat menimbulkan iritasi, hingga perut membesar.
Jenis makanan tertentu dapat menimbulkan lebih banyak gas di saluran GI. Termasuk makanan bergas adalah polong-polongan, bunga kol, brokoli, kubis, lada, dan aneka jeruk.
Gula yang disebut xylitol atau maltitol, sering ditemukan dalam produk rendah kalori atau rendah karbohidrat. Seperti cookies (aneka kue kering) dan permen. Saluran GI tidak dapat menyerap sebagian besar jenis makanan ini. Makanan itu baik untuk dasar kebutuhan kalori Anda, tetapi tidak baik untuk perut Anda. Karena menimbulkan gas.
Berbagai jenis minuman seperti kopi, teh, cokelat hangat, dan jus buah yang bersifat asam dapat menimbulkan iritasi pada saluran GI dan menyebabkan perut kembung.
[Jun-Dwi Karyani]
Posted by: |