“Dari ketinggian lantai 33 Menara Imperium, Jakarta... It’s 94.7 UFM Jakarta’s Best Morning Music! Bersama Imam Wibowo yang menemani Anda sepanjang pagi ini di Morning on You!”
Ahaaa!! Itulah kalimat opening yang setiap pagi keluar dari bibir penyiar tampan satu ini. Gayanya trendi. Celana jins, sepatu kulit cokelat mengkilap, mengenakan kaos putih diselubungi jaket cokelat tua. Paras tampannya mengundang siapa saja yang melihat tak jemu. Berceloteh dari pukul 6 hingga 10 pagi di salah satu stasiun radio swasta ibu kota. Berprofesi sebagai penyiar sekaligus programme director. Itulah dia, Imam Wibowo.
Latar belakang pendidikan tak selamanya menentukan seseorang harus bekerja sesuai disiplin ilmu. Bisa saja putar haluan 180 derajat jauh menyimpang. Kejadian itu tak satu dua yang kita dapati di masyarakat. Seperti pria yang satu ini. Ketika kuliah mengambil Jurusan Ekonomi, ternyata saat bekerja justru terjun ke broadcasting (penyiaran).
Mulanya Imam--pria tampan itu biasa disapa--tak sengaja melihat iklan lowongan di salah satu radio swasta sedang mencari penyiar. Tepatnya tahun 1999. Dari coba-coba ternyata dia diterima menjadi broadcaster di radio tersebut. Lebih kurang 6 tahun dia berkecimpung di radio itu. Kemudian pindah ke bidang yang sama, dengan segmen radio lifestyle yang lebih dewasa.
Ada yang menganggap, bekerja menjadi seorang penyiar perlu waktu ekstra. Tetapi, lain halnya dengan Imam. Justru dia sangat menikmati pekerjaannya itu. Imam katakan lebih banyak sukanya. Untuk stresnya, “ Paling begadang, itu biasa. Orang media cukup mengerti, itu sudah jadi ukuran standar untuk media manapun”, tuturnya.
Imam sepertinya tak lelah dengan pekerjaannya. Apa sebab? Itu karena dia melakukan yang memang dia sukai. Banyak dari pekerjaannya itu mendatangkan keuntungan positif, antara lain dia bisa bertemu banyak orang. Imam banyak mendapatkan akses yang orang lain belum tentu dapat memerolehnya. Dia pun bertemu banyak orang-orang terkenal, terutama artis luar negeri yang langsung dapat di-interview-nya. Hal penting lagi yang diperoleh adalah, sebagai orang media, dia justru tahu lebih awal dibandingkan dengan orang-orang di luar media. “Dukanya, paling saat bertemu pendengar yang psycho”, celetuknya.
Penyiar selalu diidentikkan dengan orang yang “bawel, cerewet, maupun ceriwis”. Jika cap itu melekat untuk penyiar pria? Imam pun berujar, “Awalnya memang sebagai tantangan jika penyiar pria itu cerewet. Akan tetapi, makin hari cerewetnya pria penyiar tak lagi dihiraukan. Karena hal itu seiring dengan tren pergaulan. Tren di media memang seperti itu. Menjadi catatan tersendiri, penyiar “jualan”. Apa yang dijual? Ya, suara atau omongan”, ucapnya.
Menurut Imam, ada anggapan ketika seorang penyiar pria cerewet dan disangka aneh-aneh. Tidak sebagai pria “lurus”. Apalagi jika dilihat dari penampilan, ada hal yang benar-benar dia tekankan. Ketika seorang pria bekerja di salah satu media, dia harus punya satu perilaku yang menjadi contoh, mengapa? Karena orang tersebut membawa nama pribadi dan juga perusahaan.
Dapat dimaklumi, jika salah dalam mengambil sikap akan dicap macam-macam. Bagaimana caranya agar tidak meninggalkan jejak-jejak negatif atau omongan negatif. Imam mengalami sendiri dilema “serba salah”. Ketika tidak dekat dengan banyak wanita dibilang sombong, lebih banyak dekat ke wanita dicap lain. Tetapi jika si wanitanya baik-baik saja, dibilang tidak suka wanita. Jika tiba-tiba penampilan mendadak rapi orang pun menganggap aneh. Intinya Imam tetap berjalan apa adanya, karena secara tidak langsung dia mewakili brand-nya.
Setiap pagi, untuk Anda yang sering mendengar radio akan mengenal suara khasnya. Morning on You, itulah acara yang selalu dia bawakan di salah satu radio swasta di Jakarta. Mulai mengudara pukul 6 hingga 10 pagi dan sudah hampir 4 tahun dia geluti.
Saya sempat mengorek keterangan darinya, penyiar radio tidak bertatapan langsung dengan pendengarnya, apa sebenarnya yang dilakukan di balik itu semua? Apakah mereka membaca script atau hanya improvisasi saja? Begitu lugas dia jawab, improve!
Imam menuturkan, “Beruntung Anda mendengarkan radio yang basicly-nya sangat dinamis dan lifestyle. Untungnya bukan radio yang full berita dan script minded. Akan tetapi, tetap punya panduan sama yang harus dibicarakan. Untuk “bunga-bunga” pembicaraan, itu bagaimana kita mengembangkan cerita dan masih dalam relnya”.
Bagaimana ketika seorang penyiar langsung berhadapan dengan penggemarnya? Dia ceritakan panjang lebar. “Sebenarnya, untuk berhadapan langsung dengan orang, tentu tidak! Hanya terkadang ketakutan ketika bertemu langsung, ekspektasi penggemar terhadap penyiar favoritnya terkadang berlebihan. Karena, kadang-kadang antara suara dan penampilan berbanding terbalik. Suaranya bagus, belum tentu didukung penampilan. Ada juga hal sebaliknya”.
Bisa saja, jika suaranya jelek orang akan berpikir, “Kok bisa ya jadi penyiar?” Imam bersyukur, respon penggemarnya selalu positif saat bertemu dirinya. Ternyata, antara suara dan penampilan memang mendukung. Pria yang satu ini memang tak mati gaya. Semua itu didukung oleh raut wajah yang good looking, kulit putih bersih, dan tinggi yang proporsional. Banyak orang mengira bahwa dirinya etnis Tionghoa. Ternyata, dia berdarah campuran Jawa-Sumatra (Riau).
Pengalaman menyiar membawa Imam terbang ke beberapa negara, antara lain Taiwan. Di sana dia sempat mewawancara Jessica Simpson, sedangkan di Malaysia sempat pula bercakap-cakap dengan M2M. Berkah penyiar membuatnya bisa jalan-jalan ke negeri orang.
Sebagai orang yang punya kedudukan cukup tinggi di radio yang dia gawangi, tak heran jika dia bertanggung jawab penuh untuk kelancaran siaran. Apa yang menjadi tanggung jawab penyiar sekaligus programme director ini di radionya? Imam berkata, “Saya bertanggung jawab terhadap kelancaran dan keberlangsungan siaran, termasuk content, apa saja yang on-air, baik penyiar, hal yang dibicarakan, gaya, tone, manner, benar atau tidaknya materi lagu, materi iklan, apakah output siaran sesuai visi-misi perusahaan. Itu semua harus dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan dari pendengar agar tetap terjaga secara baik”.
Terlontar dari bibirnya, dari sekian banyak alasan mengapa ingin menjadi penyiar? Dia mau melawan rasa tak percaya diri yang menghinggapinya selama ini. Diakuinya juga, jadi penyiar tak mencari popularitas, hanya ingin apapun yang dilakukan ada dampak baik untuk orang lain. Jadi, jika ditanya bagaimana meningkatkan popularitas? Senyum terkembang dari balik bibirnya. Jawaban lugas terlontar, “Hal itu bagaimana caranya selama bekerja melakukan tugas-tugas sebagai penyiar, presenter, atau MC sebaik mungkin. Oleh karenanya, dari situ jika orang merasa puas dan senang, itu jadinya promosi, mouth to mouth promotion.
Siaran tak hanya bicara. Pelajaran lain pun perlu ditambah dan diperkuat, antara lain kemampuan berbahasa, utamanya bahasa Inggris, selain itu juga public speaking. Membaca buku yang berkaitan dengan siaran (baca buku komunikasi-red) sangat diperlukan. Buku-buku mengenai radio tak boleh ditinggalkan. Mendengarkan radio dan berselancar dunia maya salah satu hal yang juga turut mendukung menambah wawasan.
Imam memang tak pernah berhenti belajar. Selain hal-hal yang sudah disebutkan tadi, dia pun hunting rekaman radio luar dari beragam bentuk. Itu digunakan untuk bahan perbandingan, “Radio, cara, dan tren yang bagus itu seperti apa?”, celotehnya.
Untuk Imam, siaran sebagai salah satu cara personal satisfaction. Dia mencari kepuasan diri. Imam mengatakan, dengan siaran dapat full feel your satisfaction, your needs dengan share something ke orang lain, hal-hal yang baik tentunya. Apa yang dilakukan pun dapat memberikan efek yang baik untuk orang lain.
Saat pertanyaan saya meluncur mengenai radio yang bagus seperti apa, bibirnya langsung menyambar dengan jawaban tegas. Menurutnya, setiap radio punya idealisme. Akan tetapi, jangan sampai hal itu jadi bumerang. Radio sebagai bisnis, sedangkan bisnis bicara tentang marketing. Bicara marketing artinya, bagaimana cara kita bicara kepada customer dengan idealisme tadi, tanpa mengorbankannya. Akan tetapi, kita dapat memenuhi apa maunya customer. Imam pun menuturkan, “Radio yang bagus harus punya identitas dan itu penting, sehingga orang dapat membedakan, “oh radio yang itu seperti ini dan ada pembeda dari radio lain”.
Ada begitu banyak pangsa radio di Indonesia. Tetapi, yang menjadi catatan Imam orang lebih cenderung mendengarkan radio yang lebih banyak musik. Ditambah pula lagu-lagu yang sedang hits. Bagaimanapun juga harus disesuaikan dengan segmentasi radio masing-masing. Menurut pendapatnya, di zaman dahulu orang lebih enak jadi penyiar, bisa banyak omong, itu sudah tidak berlaku lagi sekarang. Saat ini, tren radio lebih ke arah more music, lets talk music. Jualan omongan hanya sebagai jembatan saja untuk menemani bahwa radio itu ada “manusianya”.
Radio tempatnya bekerja memang sangat segmented. Basicly untuk perempuan yang berusia 20 hingga 35 tahun. Sementara, main business-nya mulai usia 25 hingga 30 tahun. Radio itu ditujukan untuk perempuan Jakarta yang smart, sexy, independent, mandiri, berani mengemukakan pendapat, dan punya idealisme. Di radio itu juga diberikan info lagu baru. Perempuan-perempuan seperti itu tidak jauh dari keterbukaan dan pembaharuan. Apapun yang baru tentunya mereka tahu. Akan tetapi, ada juga lagu-lagu lama yang mewakili audiens. Itu dikarenakan, mereka dulunya juga pernah mengalami muda. Menurut Imam, “Mereka kita ingatkan kembali, bahwa sekarang sudah dewasa, dan kenal dengan lagu-lagu lama sebagai party of your life”.
Baik lagu lama maupun teranyar diputar di radio tempatnya bekerja. Lagu terlawas diputar sekitar tahun 70-an, mengapa begitu? Karena di situ Imam punya program khusus. Lagu tahun 80-an tetap tak ketinggalan, dibarengi pula lagu tahun 90-an. Otomatis, pendengar akan mengerti semua jenis lagu yang ada di radionya.
Bicara soal program, Imam punya acara yang membicarakan ibu-ibu. Dia berikan nama dengan sebutan Yummy Mummy. Artinya, program itu tidak saja ditujukan untuk ibu-ibu yang sudah punya anak. Tetapi, untuk mereka yang aktif di luar dengan segudang aktivitas, karir, dan social life yang bagus pun dapat mengikutinya.
Seperti makanan, kalau enak orang tak segan untuk terus menyantap. Tetapi, jika tak enak, tentu akan ditinggalkan. Begitu pula dengan siaran. Siaran yang enak dan bagus memang relatif. Sama halnya seperti siaran yang dilakukan Imam. Ada standar tertentu untuk kenyamanan pendengar yang mengakses siarannya. Imam berpendapat, siaran bagus itu bagaimana caranya pendengar mengerti apa yang disampaikan penyiar. Pendengar juga nyaman dan terhibur terhadap hal-hal yang disampaikan penyiar.
Hal yang lebih menarik lagi, kehidupan pendengar dapat terpengaruh dengan hal-hal yang disampaikan penyiar. Jadi, pendengar tak hanya mendengar, justru ada take action dari yang dibicarakan penyiar. Artinya, isi atau informasi yang disampaikan penyiar bagus dan menarik seperti harapan pendengar.
“Semua orang bisa menjadi penyiar. Akan tetapi, penyiar perlu keterampilan khusus yang harus dilatih”, jelas pria 35 tahun itu. Menurutnya, semua orang punya kemampuan bicara atau komunikasi. Tapi, tak semua orang dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien. Contoh saja, ada orang yang bicara dua jam tapi orang yang mendengar tak tahu poinnya apa. Hal yang timbul justru kebosanan. Ada pula orang yang bicara lima menit, tapi maksud dan tujuannya tersampaikan. Orang akan ingat terus ucapannya. “Di situlah letak perbedaannya, mereka yang terlatih dengan orang biasa”.
Ternyata, pria satu ini tak hanya jadi penyiar. Beberapa iklan pernah dibintanginya. Road show keliling kota sudah jadi santapannya kala itu. Dunia presenter sempat singgah di hatinya. Sebagai presenter musik dan infotainment di beberapa televisi swasta di Jakarta. Main film pun dijambanginya. Film garapan sutradara andal Indonesia, dari Indra Yudhistira hingga Teddy Suriaatmadja digaetnya. Peran yang dimainkannya pun cukup menantang.
“Ketika diperankan tokoh nyata yang semua orang tahu mukanya, di situ saya deg-degan. Hanya berharap, apa yang saya lakukan dapat memenuhi ekspektasi dari orang-orang yang tahu tokoh tersebut”, begitu kata Imam saat ditanya tegangnya bermain film dengan tokoh nyata.
Berucap syukur alhamdulillah Imam panjatkan. Karena, dari jerih payahnya selama ini cukup mendatangkan hasil. Pintu rezekinya terbuka lebar dengan mediator jadi penyiar.
Berkenalan banyak orang sudah jadi makanannya sehari-hari. Dia banyak bergaul dengan beragam kalangan. Katanya, “Hal itu bagian dari materi untuk siaran”. Kehidupan sosialnya lebih banyak dihabiskan dengan cara “autis”. Saat jam kerja sudah banyak dihabiskan untuk berkomunikasi dengan orang, suasana sendiri perlu juga dia rasakan. Imam lebih memilih jalan ke mal, karena dirasa paling aman dan tak menyita banyak waktu. Clubbing, dia tak terlalu menyukainya. Pikirnya hanya buang waktu, karena dia harus siaran dan bangun pagi-pagi.
Sebagian kita mungkin dapat menyeimbangkan antara aktivitas dan kehidupan pribadi. Lain halnya dengan Imam, dia cukup “ringkih” untuk hal ini. Diakuinya, orang akan tidak dapat membedakannya, mana Imam yang profesional dan personal. Lebih ditegaskan lagi olehnya, “Somehow, lebih berani membuka diri dan sabar saja”, ucapnya.
Bekerja, tentu ada hasil yang diharapkan, baik itu materi atau di luar materi. Intinya adalah sukses. Imam menegaskan, “Sukses itu sangat subjektif. Ukuran sukses menurut saya adalah, ketika kita merasa bahagia dengan yang kita lakukan. Karena mencapai sesuatu yang tidak hanya membuat diri kita senang. Tetapi, memberikan kontribusi untuk orang lain. Kebahagiaan dapat bersifat pribadi, bisa secara materi atau karier”.
Tak salah jika dalam hidup setiap manusia punya impian, begitu pula Imam. Impian terbesar yang ingin diwujudkannya punya radio sendiri, jadi pekerja media yang sukses, dan main film lagi.
Meski dirinya belum berkeluarga, tapi itu tak jadi masalah. Untuknya, menikah itu sebagai satu komitmen jangka panjang, perlu persiapan yang panjang. “Umur-umur segini change a good person for yourself and for your body”, katanya bersemangat.
Untuk mencegah stres pekerjaan, biasanya dia rutin olahraga. Olahraga yang dipilihnya pun tak susah-susah. “Yang paling gampang dan praktis saja, saya suka berenang dan nge-gym”, begitu ucapnya mengakhiri pembicaraan dengan saya di sebuah rest place, bar and lounge kawasan Jakarta Selatan. Di muat di Majalah d'sari vol: 14, edisi Maret-April 2010.
Posted by: |